Jika Aku Tak Pernah Membuka Hati

 

Hujan sore ini ternyata lebih deras dan lama dari biasanya. Beberapa agenda yang telah kurencanakan terpaksa harus dibatalkan, atau setidaknya dibuat rencana baru untuk melakukannya. Efek patah hati seminggu yang lalu masih saja membuatku ingin bermalas-malasan. Barulah hari ini aku mencoba bangkit lagi, tetapi alam semesta seolah menghalanginya.


“Biarlah saja ia menikah dengan perempuan lain, Nim. Kau hanya perlu mencari penggantinya,” ujar Ibu kala anaknya ini masih enggan memakan nasi di hari ketiga setelah kejadian malam itu. Mungkin Ibu sudah capai menghibur dan menasihatiku, sama seperti aku yang juga lelah berada di dalam kesedihan. Namun, mau bagaimana lagi? Jika saja dulu aku tak pernah membuka hati, maka jalan ceritanya tentu akan berbeda.


Adalah Zaid yang membuatku sedemikian gila selama seminggu ini. Hubungan kami sudah berjalan hampir satu dekade. Orangtua pun sudah saling menyetujui. Namun, tanpa tedeng aling-aling ia menyodorkan undangan pernihakan tepat di depan wajahku. Kukira ia sedang memberi contoh undanganku dengannya, jadi aku tidak terkejut dan hanya menanggapinya dengan cengengesan. Namun, setelah beberapa detik dan hanya aku yang tertawa, perasaanku jadi tidak enak. Pasti ada sesuatu hal yang tidak beres.


Zaid Hidayat. Hanum Ningrum. Tunggu... namaku itu Nimas Rahayu. Lalu siapa nama perempuan yang tertulis di kartu undangan tersebut? Tawaku terhenti dan berganti dengan air mata yang mengalir deras.


Kala itu, untuk pertama kalinya Zaid membiarkanku terisak dalam tangisan. Ia tidak menenangkanku, tidak juga mengusap air mataku. Padahal, ia adalah orang yang paling keras melarangku untuk menangis, kecuali memang untuk hal-hal yang terasa menyesakkan. Hampir satu jam kuhujani ia dengan pertanyaan dan beberapa pukulan di lengannya, tetapi ia hanya terdiam. Tidak sekalipun melawan.


“Kita berdua tidak ditakdirkan bersama, Nim. Mohon maaf atas segala kesalahanku, dan terima kasih telah menemaniku dalam hampir satu dekade.”


“Lalu, jika kau ingin menikah dalam waktu dekat, mengapa bukan aku perempuannya? Apa hubungan kita itu hanya lelucon?”


“Ada satu hal yang tidak bisa kurasakan saat bersamamu, tapi bisa kudapatkan saat bersamanya. Kenyamanan.”


“Maksudmu, kau tidak pernah merasa nyaman saat bersamaku?”


Zaid terdiam beberapa detik, sedangkan tangisanku semakin menjadi-jadi.


“Terlalu sulit untuk dijelaskan, Nim. Kau mungkin tidak akan pernah mengerti.” 


Lalu, setelah itu ia tak pernah lagi datang kepadaku. Kupanggil namanya berulang kali dengan tangis yang belum juga mereda. Namun, seolah punggungnya ditempeli beban berat sehingga untuk berbalik pun ia kesusahan.


Selama seminggu itu, aku menjadi bukan aku yang sebelumnya. Pekerjaan terbengkalai. Seolah tubuh terus menerus merasa lunglai.


“Mbak, aku ingin ambil cuti kerja, ya,” ujarku pada Mbak Dwi, seorang atasan kerja yang paling kukagumi.


“Ya, Nim. Berapa hari kau akan mengambil jatah cutimu?”


“Sebulan,” ucapku mengasal. Mbak Dwi pasti sedang menahan amarah mendengar jawabanku ini. “Dua minggu saja, deh, Mbak,” ujarku lagi pada akhirnya.


“Ya sudah, kalau memang cukup untuk menyembuhkan hatimu, lakukan saja, Nim. Aku tidak ingin kau bekerja dalam keadaan hati yang tak keruan. Ditinggal menikah memang sakit sekali. Tidak ada obatnya.”


“Mbak...,” ucapku dengan rengekan. Mbak Dwi meminta maaf dan menutup telepon. Aku lagi-lagi menangis untuk meratapi perpisahan sebelah pihak.


Selama seminggu itu, aku jadi banyak berpikir. Apa saja yang telah kulakukan. Apa saja yang telah kuucapkan. Apa saja yang kurang dariku, sampai-sampai Zaid tega membuat keputusan yang begitu menyesakkan dada.


Kucoba mengingat-ingat hal yang mungkin membuatnya sakit hati. Namun, nihil saja usaha itu. Semuanya berujung sia-sia karena memang aku dan Zaid tidak pernah mengalami pertengkaran besar selama berpacaran. Bahkan saat tahun lalu aku menunda lamarannya karena aku belum siap, ia tetap bersikap baik kepadaku.  Lalu, beberapa penyesalan mengusik pikiranku. Jika aku tidak pernah membuka hati untuknya, mungkin saja aku akan menemukan orang lain. Mungkin juga ia tidak akan meninggalkanku untuk menikah dengan orang lain. Atau mungkin ia tidak akan membuatku bersedih seperti sekarang ini.


Beberapa teman yang begitu mendukung hubunganku dengan Zaid malah menyudutkan keputusanku dulu. Keputusan yang akhirnya membuat Zaid menikahi perempuan lain.


“Ini mungkin salahmu juga, Nim. Tahun lalu, kan, Zaid ingin melamar dan mengajakmu ke pelaminan. Tapi, dengan teganya kau menunda hal itu.”


“Waktu itu mentalku belum siap, Yun. Aku tidak ingin menjalani pernikahan dengan keraguan atau dengan hati yang didera keterpaksaan.”


“Ya, kalau begitu, kau tak perlu meratapinya sedemikian rupa. Kau harusnya paham konsekuensi atas keputusanmu dulu. Hati seseorang itu bisa berubah-ubah. Tidak pernah ada yang tahu kapan seseorang mencintaimu atau berhenti mencintaimu.”


Bukannya mendapatkan ketenangan, aku malah diceramahi habis-habisan oleh Yuni. Ibu dua anak yang juga temanku itu mengklaim bahwa akulah yang bersalah besar atas perpisahanku dengan Zaid. Bertambahlah rasa sakitku ini. Lalu pengandaian kembali muncul di benakku. Jika memang waktu bisa diputar, aku mungkin akan menerima lamaran Zaid tahun lalu. Mungkin hari ini aku sedang hamil muda atau sedang merencanakan akan berbulan madu ke mana. Terseok-seok lagi pikiranku dibuatnya.


Patah hati ternyata sangat melelahkan. Capai pikiran dan juga perasaan. Bayangan-bayangan masa lalu bersama Zaid seolah sengaja muncul ke permukaan. Sudah kucoba untuk menepisnya kuat-kuat, tetap saja terlihat jelas dalam penglihatan. Kalau aku sedemikian gilanya saat ditinggalkan olehnya, apa Zaid sama sekali tidak terganggu oleh kenangan kami yang pernah dilalui? Apa dia semudah itu menjalani proses melupakan? Malam itu, untuk kesekian kalinya pikiranku dihujani banyak pertanyaan dan penyesalan, sejalan dengan rumput di halaman yang juga sedang diguyur air hujan.


“Nim, sebaiknya kautenangkan pikiranmu di luar kota saja. Percuma kalau kau terus berdiam diri di rumah untuk menenangkan diri. Hal itu jelas akan sia-sia karena kautahu bahwa Zaid juga sering mampir ke rumah ini,” ujar Ayah yang juga pusing menghadapiku termenung menghadap ke jendela.


“Apa Ayah tidak benci kepada Zaid?”


“Untuk apa?”


“Untuk ia yang meninggalkan anak Ayah. Padahal, hubungan kami sedang baik-baik saja.”


“Baik menurutmu tidak berarti baik bagi orang lain, Nim.”


“Maksud Ayah?”


“Dua minggu sebelum Zaid meninggalkanmu, ia telah lebih dulu berpamitan kepada Ayah dan Ibu, Nim. Kau tahu, Nim? Saat ia ingin meninggalkanmu, ia juga didera kesesakan yang tiada bandingan. Ia juga sama sesaknya denganmu.”


Aku hanya terdiam. Kata-katanya terlalu sulit untuk kucerna. Bahkan untuk sekadar menanyakan alasannya pun lidahku seolah tercekat.


“Awalnya, Ayah dan Ibu juga ingin marah. Sangat marah. Namun, Zaid ternyata benar. Kau dan Zaid memang tidak akan pernah sejalan. Kalian berbeda, Nim.”


Aku masih diam, menunggu ayah melanjutkan ceritanya.


“Kau terlalu mandiri untuk Zaid yang ingin melindungi. Saat perempuan lain ingin lelakinya melakukan segala hal untuknya, kau malah dengan santainya melakukan segala hal sendirian. Membiarkan Zaid hanya melihat hasil akhir, tanpa pernah menunjukkan proses mendapatkannya. Sedang Zaid ingin selalu menjadi yang terlibat dalam proses-proses di hidupmu. Sembilan tahun berpacaran ternyata tak cukup membuatnya percaya diri untuk bersanding denganmu, Nim. Kau terlalu tak terjangkau baginya.”


“Tapi, Ayah, sembilan tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kukira Zaid memahamiku.”


“Dan Zaid juga mengira bahwa kau memahaminya. Tapi, nyatanya kalian tidak saling memahami, Nim.”


“Apa hal itu bisa kuperbaiki, Ayah? Mungkin saja kalau aku berubah, ia akan kembali padaku?”


“Tidak, Nim. Zaid telah berjanji tidak akan kembali kepadamu. Sekali ia menyerahkanmu kepada kami, maka ia tidak bisa menarik kembali perkataannya. Dan Ayah tidak akan membuatmu terluka lebih daripada ini.”


Kenyataan yang baru saja kudengar sama sekali tidak membuatku tenang. Perasaan bersalah kian menjalar dalam tubuhku, sejalan dengan air mata yang semakin mengalir deras. Apa benar, aku dan Zaid memang tidak bisa sejalan meski telah berpacaran hingga tahun kesembilan? Apakah sesulit ini menjadi perempuan yang mandiri?


Kulihat Ayah menatapku dengan nanar, merentangkan kedua tangannya untukku yang sudah lama tidak dipeluk olehnya. Ayah membiarkan air mataku memabasahi baju koko kesayangannya. Ia juga tidak ragu untuk menyanyikan tembang untuk meredakan tangisku saat aku masih kecil dulu.


“Tidak apa, Nim. Akan selalu ada orang yang datang dan juga pergi dalam hidup kita. Kalau memang bukan takdirnya, meskipun ia telah lama bersamamu, maka ia akan pergi juga. Tidak ada yang salah dengan sikap mandirimu. Kau tak perlu menjadi manja untuk bisa disayangi oleh lelaki.”


Aku semakin terisak mendengar kalimatnya.


“Zaid memang tidak bisa lagi menjadi bagian dari cerita hidupmu, maka seseorang yang lain akan melengkapi kembali ceritamu. Kau hanya perlu menjadi dirimu. Terlepas dari Zaid yang tak bisa menerima kemandirianmu, Ayah dan Ibu malah bangga memiliki anak sepertimu. Kau terlampau hebat untuk dimiliki, Nim”


Kalimat terakhirnya membuatku sedikit tertawa. Ayah memang selalu bisa menghiburku.


“Jika aku tak pernah membuka hati untuk Zaid dan berpatah hati karenanya, mungkin aku tidak akan berada di pelukan Ayah seperti sekarang ini.”


“Kau juga tidak akan menyadari betapa berharganya dirimu, Nim.”


“Tapi, sekarang aku tidak punya kekasih, Ayah...”


“Mendapatkan orang yang tepat membutuhkan waktu yang tidak sebentar, Nim. Ingatlah yang sudah-sudah.”


Lalu malam itu berakhir dengan tawa di antara aku dan Ayah. Disusul Ibu yang membawa senampan pisang goreng lengkap dengan teh manis hangat. Memang benar, jika aku tak pernah membuka hati dan berpatah hati, maka aku tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang langka seperti ini.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama