Kapal yang Karam Sebelum Sampai di Pelabuhan


Hidup Arman seolah nyaris sempurna. Ia menjadi kepala sekolah di salah satu SMA Negeri di Jakarta. Pekerjaan impiannya sejak duduk di bangku SD kini tengah ditekuninya. Rapat di sana-sini hingga pelatihan ke luar kota telah dijalaninya selama hampir tiga tahun. Ya, dia adalah kepala sekolah dengan usia yang masih terbilang muda.


Cita-citanya menjadi guru telah terlaksana empat tahun sebelum ia ditunjuk sebagai kepala sekolah untuk menggantikan orang sebelumnya. Betapa menjadi guru adalah hal yang paling didambakannya dengan berbagai alasan. Orangtuanya dulu tak setuju kalau anak semata wayangnya ini terjun ke dunia pendidikan karena mereka ingin Arman menekuni bisnis yang telah ada sebelum Arman lahir. Namun, kegigihannya membuahkan hasil; ayah dan ibunya kini malah mendukung Arman sepenuh hati, sampai-sampai menjadi donatur paling besar setiap sekolahnya mengadakan kegiatan.


Selain orangtua yang mendukung dan karir yang cemerlang, ia juga memiliki tunangan yang begitu perhatian. Cantik parasnya sudah bukan tandingan. Baik hatinya tak pernah ia ragukan. Adalah Finka, penulis buku yang usianya dua tahun lebih muda dari pada Arman. Bagi Arman, Finka lebih dari sekadar tunangan. Finka adalah malaikat penolongnya yang dengan tulus menyembuhkan luka di hatinya karena sebuah kisah tentang kasih yang terpaksa berpisah.


Jauh sebelum mengenal Finka, Arman telah menautkan hatinya pada perempuan berdarah Sunda yang begitu manis. Mereka menjalin hubungan sejak tahun pertama kuliah hingga akhirnya Dinda, wanitanya saat itu, memutuskan untuk menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Remuk redam perasaan dan hati Arman kala itu. Dunianya terasa gelap. Semuanya terasa sia-sia. Bahkan, ketika hal-hal yang mereka impikan belum sempat terwujud, wanitanya itu telah menjadikannya sebagai lelaki paling menyedihkan di dunia.


Lalu, entah bagaimana semesta mengirim Finka dengan segala kebaikannya hingga membuat Arman memutuskan untuk menjadikannya sebagai teman hidup. Berbinar-binar mata Finka kala itu. Betapa semesta telah begitu baik kepadanya. Terima kasih telah memilihku, katanya saat acara pertunangannya selesai.


Beberapa bulan menuju hari pernikahannya, Arman dan Finka disibukkan dengan memesan perlengkapan ke sana-sini. Di tengah kesibukkan keduanya, mereka sempatkan untuk bertemu dan diskusi. Betapa dua orang itu tengah dilanda kebahagiaan yang tak terkira. Jauh dari kesedihan, apalagi perpisahan. 


Suatu hari saat Arman menunggu Finka di sebuah kafe, ia melihat seorang wanita mengenakan setelan dinas cokelat seperti dirinya. Bukan. Bukan jenis pakaian yang menarik perhatiannya, tapi gerak-gerik wanita itulah yang membuatnya menepis pikirannya berulangkali. Benarkah yang kulihat ini dia?


Setelah wanita itu keluar dari kafe, cepat-cepat ia menyadarkan diri dan pikirannya. Tidak mungkin kalau dia ada di kota ini, pikirnya berkali-kali. Lalu Finka datang dan langsung mengajaknya berdiskusi. Pikiran itu menguap seketika. Arman berdiskusi panjang mengenai warna jas dan gaun yang akan mereka pakai saat resepsi nanti. Keduanya memutuskan untuk menyelesaikan diskusi saat waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Finka meminta untuk pulang sendiri karena kebetulan membawa mobil. Arman mengiyakan, ia pun mengemudikan mobilnya. Dan pikirannya kembali pergi pada wanita yang dilihatnya sore tadi di kafe. Tuhan, tolong jangan buat aku berada pada posisi yang membingungkan ini, batinnya.


Seminggu sudah ia dihantui bayang-bayang wanita itu. Seminggu itu pula ia bersikap lebih romantis dari biasanya pada Finka. Finka tak berpikir macam-macam, ah mungkin saja ini karena kita akan menikah, jadi dia lakukan ini untuk menghindari gugup saat ijab qabul nanti.


Arman ternyata tak bisa membohongi hati kecilnya. Semakin ia singkirkan pikiran dan perasaan itu, semakin rasa rindu pada wanita itu menyembul ke permukaan. Ternyata Dinda, wanitanya dulu, tak pernah benar-benar hilang dari bagian hidupnya. Ternyata melupakan Dinda tak benar benar-benar sukses ia lakukan. Ternyata memang masih ada bagian dari hatinya yang menyimpan Dinda, yang tentu saja tak pernah diketahui oleh siapa pun, termasuk Finka, tunangannya.


Di hari kesepuluh setelah ia melihat bayangan wanita itu, ia ditugaskan untuk mengikuti pelatihan di Yogyakarta. Semoga saja dengan ikut pelatihan ini, halusinasiku tidak menjadi-jadi, batinnya saat di perjalanan menuju tempat pelatihan. Namun, rencana hanyalah rencana. Semesta selalu punya jalan cerita yang bahkan tak pernah bisa ditebak oleh siapa pun.


Lalu di sinilah mereka sekarang, menatap canggung masing-masing cangkir berisi kopi susu yang disajikan untuk para PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang mengikuti pelatihan. Arman tak pernah menyangka akan satu kemlompok dengan Dinda dalam pelatihan ini, Dinda apalagi. Membayangkan bertemu mantan kekasihnya saja ia tak pernah berani, sebab rasa sakitnya saat meninggalkan Arman dulu begitu menghujam. Berbulan-bulan Arman memenuhi pikirannya, berbulan-bulan pula ia harus berusaha mencintai suaminya, seseorang yang dipilih langsung oleh orangtuanya. 


“Hampir tujuh tahun kita gak ketemu, Nda,” katanya saat pelatihan untuk hari pertama usai. Dinda kaget bukan buatan, dadanya disesaki debaran jantung yang tidak keruan.


“Dan kamu ternyata masih sama. Masih cantik,” rupanya Arman baru saja menyelesaikan kalimatnya. Arman tidak menyangka kalau kalimat itu akan keluar darinya. Benar-benar tak bisa dicegah.


“Kamu apa kabar, Man? Selamat ya, sekarag sudah jadi kepala sekolah. Hebat kamu,” berbinar mata Dinda ketika mengucapkannya.


“Suami kamu…” Arman mencoba menanyakan hal yang belum terlihat kejelasannya. Sebab, saat Dinda menikha dulu, ia tak hadir karena tak bisa menahan sesak di hatinya.


Dinda menahan kegetiran dalam senyumnya yang masih terlihat manis, “Dia sudah menceraikanku tiga tahun yang lalu, Man. Saat buah hati kami masih belajar berjalan, saat semuanya masih kuanggap bisa dipertahankan. Namun, nyatanya memang semesta tidak memberi apa yang kuharapkan.”


Arman tidak berkata apa pun. Pikirannya kosong. Namun, hatinya berkata hal yang tidak-tidak. 


“Kalau kamu, Man? Udah nikah, kan? Harusnya udah dong,” entah bagaimana Dinda tidak terlihat gugup lagi kali ini. Arman bisa merasakannya karena obrolannya mengalir lancar. 


Ditanya begitu, Arman jadi gamang, “Beberapa bulan ini kami akan menikah, Nda. Dia penulis, adik tingkat kita saat kuliah dulu. Finka namanya.” Mendengar itu Dinda hanya tersenyum. Arman tidak mengerti apa maksudnya.


“Semoga lancar ya, Man. Aku diundang gak nih?” Arman bahkan tak menyangka kalau respon Dinda akan begitu. Sepertinya memang Dinda sudah tak menyimpan kasih kepadanya. Sepertinya memang ia harus mengosongkan bagian hatinya yang masih ada Dinda di dalamnya. Namun ia lupa, bahwa Dinda adalah sebaik-baiknya orang yang paling mampu menyembunyikan apa yang sedang dirasakannya.


Pelatihan di Yogyakarta telah selesai, tapi tidak dengan kegamangan dan kebingungan di hati Arman. Setelah tahu bahwa Dinda tidak memiliki pasangan, hatinya mulai diketuk oleh rasa bimbang. Hati Arman sepenuhnya ingin kembali, tapi bagaimana dengan Finka? Ia juga tak bisa meningalkan perempuan sebaik Finka itu. 


Malapetaka itu bernama keraguan di hati Arman dan keresahan di hati Finka. Beberapa hari Arman tak menjawab panggilan dari Finka, berhari-hari pula Finka mengatur pernihakan mereka sendirian. Berkali-kali Finka datang ke sekolah Arman, berkali-kali Arman memintanya untuk pulang saja. Semakin  ditanya kenapa, semakin Arman tak memberikan jawaban yang jelas. Semakin Finka menuntut penjelasan, semakin Arman bungkam menanggapinya. 


Sampai sebulan menuju hari pernikahnnya, Finka masih dalam keresahan yang membalutnya. Arman jadi jarang menghubunginya. Jelas hatinya didera sakit dan bingung yang berkepanjangan. Sampai suatu hari Arman mau menemuinya karena Finka menangis sesenggukan. Finka tak pernah menyangka kalau tangisnya itu akan berkepanjangan.


“Maafin aku, Ka. Selama ini aku jadi gini. Sebenarnya pas pelatihan di Yogya kemarin, aku ketemu Dinda.” Finka masih menunggu kalimat Arman selanjutnya.


“Aku kira rasaku buat Dinda bakal hilang seiring berjalannya waktu, tapi ternyata enggak, Ka. Aku gak bisa bohongin hatiku. Aku tahu ini pasti menyakitkan, tapi semakin aku kubur perasannya, semakin sesak aku dibuatnya.”


“Man, Dinda udah punya suami. Kamu gak mungkin kan, kalau ngerusak rumah tangganya?”


“Dia diceraikan suaminya, Ka.”


“Terus, kamu mau balik ke dia? Man, selama ini kamu anggap aku apa? Memangnya hubungan kita selama ini mainan, hah? Bahkan setelah semua yang kita lewati, kamu masih menyisakan hati kamu buat Dinda? Man, ini kita sebulan lagi nikah, terus kamu mau batalin, gitu?”


“Gak ada yang gak mungkin, Ka.”


“Man, kamu gila, ya? Kamu kira perasaan aku ini mainan?” Finka sudah diambang batas kesabarannya. Air matanya sudah jatuh berhamburan sedari tadi. Tak ada sedikit pun upaya dari Arman untuk menyekanya. 


“Maafin aku, Ka. Ini di luar kemampuanku. Undangan belum tersebar, kan?”


“Benar-benar gila kamu, Man. Apa kamu gak mikirin Mama, Papa, Ayah, Ibu? Man, pikiran kamu di mana?” berkali-kali Finka bertanya, sambil meyakinkan, sambil berharap agar keputusan Arman tidak benar-benar dibulatkan.


“Nanti aku bicarakan ke mereka, Ka.” Arman bersikeras dengan keputusannya. Air mata dan permohonan Finka seolah bukan hal yang perlu dipikirkan. Rasa cinta pada Dinda telah membutakannya, dan mengelabui akal sehatnya. Finka didera kesesakan yang paling menyesakkan. Ia tidak pernah menyangka kalau kesetiaannya selama ini dibalas dengan pengkhianatan yang teramat kejam. Lelaki yang dicintainya dengan teramat, kini sama sekali tidak memedulikannya. Matanya sembab. Hatinya sesak. Dunianya menjadi gelap.


Hari ini seharusnya Arman mengucapkan ijab qabul untuk Finka, tapi ia sudah berada tepat di depan pintu rumah Dinda.


“Lho, Man, ada apa ke sini?”


“Aku masih cinta sama kamu, Nda.”


“Man, kamu harus sadar. Kamu ini mau nikah, lho. Masa iya bilang masih cinta ke aku?”


“Aku batalin pernikahannya. Demi kamu. Kamu mau kan, nikah sama aku?” Arman menodongkan pertanyaan yang lugas dan jelas. Dinda didera sesak napas tiba-tiba. Tak pernah ia menyangka kalau Arman melakukan tindakan yang sangat menyakitkan ini.


“Man, kamu kok tega, sih? Finka udah berkorban banyak untuk kamu.”


“Tapi aku cintanya sama kamu, Nda. Aku enggak bisa bohongin hatiku.”


“Man, semuanya udah selesai. Di antara kita sudah tidak ada lagi hal yang perlu dilanjutkan. Aku dan Finka itu sama-sama perempuan. Aku bisa merasakan hal yang sama. Pasti teramat menyakitkan. Aku enggak bisa bahagia tapi di atas kesakitan yang dialami perempuan lainnya. Aku enggak sanggup, Man.”


“Tapi kita enggak perlu pikirin orang lain, Nda.”


“Tapi aku enggak sanggup, Man. Maaf, mungkin memang kita enggak sejalan.”


Bagai disambar petir di siang bolong, Arman merasakan kesakitan itu. Semuanya seolah menguap begitu saja. Ia bahkan tak lagi punya apa-apa. Tak punya Finka, apalagi Dinda. Kini ia juga merasakan sebuah kesakitan. Hatinya sesak. Dunianya menjadi gelap. Ia sudah berkali-kali mendayung, jangankan dua pulau yang terlampaui, satu pulau saja ia tak sanggup. Kapalnya karam, bahkan sebelum sampai di pelabuhan.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama