Bertemu Jodoh di Masa Tua


Tidak pernah ada yang bisa memungkiri takdir. Manusia hanya bisa berusaha, sedang Allah-lah yang menentukan segalanya.


Belakangan ini aku sering dihinggapi rasa khawatir ketika melihat Ibu yang pulang menghadiri undangan. Ibu seringkali hampir menangis, bahkan sesekali air matanya tak terbendung. Bisa jadi ia sedang bersedih, sebab melihatku yang sudah berumur, tetapi tak kunjung ada lelaki yang meminang. Padahal, teman sebayaku sudah banyak yang menuntun anak, bahkan ada pula yang sudah berboncengan ke mana-mana dengan motor bersama anaknya. Tak jarang kulihat Ibu salat Tahajud di sepertiga malamnya. Bisa kutebak dengan pasti bahwa Ibu selalu mendoakanku agar segera mendapatkan jodoh.


Di antara keempat anaknya, tinggallah aku yang masih melajang. Yang paling membuat Ibu bersedih adalah ketiga anaknya yang sudah menikah adalah adikku. Artinya adalah aku anak pertama, tetapi sudah dilangkahi oleh semua adikku. Sudah beberapa kali kutenangkan Ibu agar tidak perlu bersedih, sebab aku pun sudah tidak terlalu berharap akan ada orang yang menikahiku. Mau bagaimana lagi, parasku yang tidak terlalu menarik dan juga postur tubuh yang tidak ideal membuatku selalu pesimistis. Aku sering berpikir, siapa yang akan mau denganku?


Semakin ke sini, Ibu malah semakin rajin berpuasa. Meskipun tidak berterus terang, tetapi gelagatnya tak bisa membohongiku. Semakin diingatkan, semakin Ibu giat berpuasa. Aku jadi merasa berdosa, tetapi juga tidak bisa memaksa, sebab jodoh, maut, mati, dan bahagia sudah ditentukan oleh Allah.


Saat sekali lagi kuingatkan bahwa Ibu tak perlu mengkhawatirkanku, ia malah tersenyum. Iya, Ibu tahu jodoh sudah diatur oleh Allah, tetapi usaha juga perlu. Siapa tahu jika Ibu yang mendoakan, Allah akan mengabulkan doa Ibu.


Aku tak bisa berbuat apa-apa selain meminta kepada Allah agar Ibu selalu diberikan kesehatan. Tak pernah bisa kubayangkan bahwa jika Ibu meninggalkanku nanti, aku masih dalam keadaan sendirian. Ayah sudah tiada beberapa tahun ke belakang, sedang adik-adikku sudah memiliki kehidupan baru dengan keluarganya masing-masing.


Seringkali aku bertanya mengapa aku berbeda dari saudara yang lainnya. Ibu berkata bahwa saat usiaku menginjak satu bulan, penyakit kuning menimpaku. Saat aku memasuki masa belajar berjalan, tiba-tiba saja aku sakit berbulan-bulan. Bahkan sampai menyebabkan tubuhku kurus dan rambut menjadi rontok. Tinggi tubuhku juga disusul cepat oleh adik-adikku. Saat di sekolah dasar dulu aku terserang penyakit cacar. Tidak tanggung-tanggung cacarnya menyerang wajahku, bahkan Ibu sampai membawaku ke beberapa dokter. Hingga kini luka akibat cacarnya masih membekas, meskipun tidak terlalu kentara.


Usaha yang dilakukan Ibu tidak hanya salat Tahajud dan berpuasa, tetapi juga dengan menjodohkanku. Meskipun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, pada akhirnya aku tetap mengetahui. Beberapa orang yang dijodohkan sempat datang ke rumah, tetapi tidak pernah lagi datang untuk kunjungan setelahnya. Mungkin saja mereka tidak tertarik denganku. Ibu juga memintaku agar mengikuti kursus kecantikan. Diperlakukan begitu, aku jadi tidak enak. 


“Meskipun ikut kursus juga, aku tetap tidak cantik, Bu. Buang-buang uang saja.” 


“Ini namanya usaha!” Ibu terdengar sedikit membentak. Takut durhaka, kuturuti saja kemauannya. Layaknya anak kecil, Ibu mengantarku pergi dari dokter kecantikan dan juga menjemputku pulang. 


Sebenarnya keadaan yang kualami sangatlah membingungkan. Lelaki yang pendidikan atau keadaan ekonominya lebih rendah, tidak berani mendekatiku. Sebab, aku adalah lulusan akademi dan juga kini bekerja di perusahaan swasta yang bonafide. Sedang lelaki yang melebihiku dari berbagai aspek, tentunya akan memilih perempuan yang lebih muda, cantik, dan tidak memalukan ketika dibawa ke mana-mana.


Aku sudah berada di titik pasrah, bahkan saat usiaku menginjak empat puluh tahun. Namun, Ibu tetap giat berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Ia tak pernah bosan meminta jodohku kepada-Nya. 


Pernah suatu hari Bos Besar di kantor mengundang makan malam kepada karyawatinya. Aku sempat curiga, sebab yang diundang hanya karyawati. Bisa diprediksi pula bahwa hanya wanita lajang yang diundangnya. Meskipun beralasan akan mendiskusikan perihal seragam baru untuk karyawan staf dan buruh pabrik, tetapi kecurigaan masih menghinggapiku. Hanya sepuluh wanita yang diundang, enam di antaranya sudah pernah berada dalam bahtera pernikahan. Empat orang sudah melakukan perceraian, sedangkan dua orang lainnya ditinggal mati oleh suaminya. Maka, tidak ada alasan bagiku untuk menolak undangan tersebut. 


Kuceritakan pada Ibu bahwa nanti malam ada undangan makan malam. Kuceritakan pula bahwa karyawati yang diundangnya pun orang yang masih lajang. Maka sekonyong-konyong Ibu menghubungi salah satu teman dekatku. Temanku berkata bahwa makan malam tersebut juga merupakan acara perkenalan dengan adik Bos besar yang nantinya akan memegang perusahaan baru. Diskusi mengenai seragam adalah hal tambahan. Adik dari Bos Besar tersebut ternyata seorang duda. Mendengar hal itu, Ibu seperti diserang lebah. Langsung saja ia membawaku ke toko baju untuk membelikanku pakaian yang pas. Tidak hanya itu, Ibu juga membawaku ke salon. Melihat perlakuan Ibu, aku jadi iba jika ia melihat betapa cantiknya teman-temanku.


Saat rapat berlangsung, kepercayaan diriku kian menyusut. Adik Bos Besar memang sudah berumur, tetapi masih terlihat gagah, tampan, dan juga ramah. Kulihat temanku yang lain sedang berlomba-lomba menjadi yang paling cantik. Bos Besar mempersilakan adiknya untuk berpidato tentang perusahaan baru yang akan didirikannya nanti. Kebetulan aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh adik Bos Besar. Pertanyaannya ada kaitannya dengan pekerjaaku sehari-hari, jadi tidak heran jika aku bisa memjawabnya. Beberapa ide juga kuajukan untuk perusahaan yang akan dibangun nantinya. 


Karena sadar diri, maka saat acara makan malam setelah diskusi selesai, aku tidak banyak bicara. Temanku yang lain saling berlomba untut berdempet-dempetan dengan Duren itu. Terlihat dari ujung mataku bahwa ia tetap bersikap tenang ketika menghadapi perempuan dengan wajah yang cantik-canti itu. Sempat juga terlintas ketertarikanku, hanya saja kutepis jauh-jauh. Sebab, ia tak akan bisa kugapai.


Pulang dari makan malam, aku diantar oleh mobil karyawan ke rumah masing-masing. Ibu belum tidur, menungguku. Ia bertanya mengenai seperti apa rupa adik Bos Besar. Kujawab saja bahwa ia pulang dengan salah satu karyawati yang paling cantik. Sengaja aku berbohong agar Ibu tidak menyimpan banyak harapan, meskipun ternyata hatiku keberatan dan tidak tega membohonginya. Aku terlalu khawatir terhadapnya.


Seminggu kemudian, aku dikagetkan dengan keputusan Bos Besar yang menugaskanku menjadi sekretaris di perusahaan barunya. Usut punya usut adiknyalah yang memilihku untuk mendampingi segala kegiatan dalam perencanaan. Jadi, meskipun kantornya masih dibangun, kini aku sudah memiliki atasan baru. 


Dari pergaulan sehari-hari dengannya aku jadi tahu awal mulanya ia menjadi duda, yaitu karena istrinya meninggal. Anaknya dua. Yang pertama sudah memiliki istri di Bali, sedangkan satu lainnya sedang menempuh beasiswa S2 di luar negeri. Ia berujar bahwa ia tidak sekaya kakaknya. Setelah pensiun, ia ditawari membuat perusahaan oleh kakaknya. Dari sanalah aku dan dia memiliki keterikatan rasa, saling menyayangi. Cinta datang begitu telat. Aku mendapatkan jodoh di usia yang tak lagi muda, hasil doa Ibu yang tiada hentinya. Meskipun aku tidak kunjung dikaruniai anak, tetapi kedua anaknya sangat menyayangiku. Apalagi ketika melihat ibuku, rasa bahagia mereka tak tergambarkan. Terima kasih, Allah.


Seperti yang diceritakan oleh Syan, 49 tahun (nama samaran) dari kota G. Cerita ini merupakan terjemahan dari rubrik Satukangeun Lalangse berjudul Tepung Jodo Pakokolot dalam Koran Sunda Mingguan Galura Wuku Wuye, Setra 1949 Caka Edisi 1 April 2013.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama