Seusai Pertemuan Sore Itu

Seusai pertemuan sore itu, kau harusnya bisa bersikap biasa saja dengan lelaki yang mengabaikan perasaanmu sekian tahun lamanya. Ia memilih untuk menikahi wanita pilihannya daripada denganmu yang sudah menyukainya sejak sekolah dasar. Baginya, kau tak lebih istimewa dari seorang teman masa kecil. 


Semenjak perpisahan sekolah dasar, kau selalu menyiman segenap kenangan bersamanya di dalam memorimu. Bahkan saat kau bertemu dengan teman baru pun, kau masih mengingat dengan jelas semua tentangnya. Tentang kenakalan, senyum manis, dan leluconnya yang selalu sukses membuat hari-harimu berbunga-bunga.


Sebelum perpisahan itu menjelma menjadi nyata, kau pernah dibuat jengkel olehnya. Hal sepele yang ternyata dibesar-besarkan.


“Kau curang! Seharusnya tim perempuan yang memenangkan permainan bola kasti ini!” serumu menyuarakan penolakan atas sebuah kekalahan. Teman-teman perempuanmu berteriak menandakan persetujuan. 


“Tidak ada dalam kamusku untuk mengalah pada perempuan. Kau seharusnya bisa menerima kekalahan ini, Kawan,” ujarnya dengan sedikit menyeringai. Lalu diacak-acaklah rambut kucir kudamu yang sudah berantakan dicampur dengan keringat sambil berlalu pergi. Menyisakan kau yang didera kekesalan tiada tara.


Ironisnya, saat mengingat hal itu kau malah tertawa sendiri. Lalu merasakan bahwa ada yang menyesakkan di dalam hatimu saat menyadari bahwa kau telah benar-benar tak lagi bisa melihatnya setiap hari. Kau harus berlapang dada mengalah pada ruang dan waktu yang tidak lagi berada di pihakmu.


Masa-masa SMP membuatmu berkenalan dengan orang-orang baru. Seharusnya ini bisa menjadi hal yang membuatmu sadar bahwa laki-laki tidak hanya ia seorang. Lalu kau menuruti perintah semesta untuk sedikit demi sedikit melupakannya. Kau berkenalan dengan seorang kakak kelas yang manis. Seorang dengan kemampuan sepak bola yang andal, tetapi memilih banting setir pada dunia bela diri.


Semenjak perkenalanmu dengannya, kau bisa kembali tertawa. Ia memberikan beberapa perhatian yang tentu saja membuatmu berbunga-bunga. Ia juga berhasil membuatmu masuk dalam sebuah organisasi yang bukan menjadi keahlianmu. Usahamu sedemikian kerasnya dalam menjalani pendekatan itu. 


Namun, lagi-lagi perpisahan itu harus merenggut kebahagiaanmu. Ia, kakak kelasmu yang manis itu, tidak bisa lagi kau temui saban waktu istirahat karena jenjang pendidikannya sudah berbeda. Kau naik kelas dan ia pun lulus SMP. Ia akan memiliki kesibukan dan teman baru yang berarti tidak akan bisa menyempatkan waktu yang lama untukmu. Benar saja, setelah perkiraan itu, kau kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang yang kausukai tidak lagi bisa kaujangkau dalam pandangan. Lagi-lagi kau kalah telak pada ruang dan waktu.


Lalu, singkat ceritanya kau kembali berkomunikasi dengan teman SD-mu yang lucu itu. Teramat bahagia kau dibuatnya sampai selalu membangga-banggakannya pada teman-temanmu.


“Hai. Apa kabar?” sapanya saat kau sedang menjelajahi beranda Facebook.


“Kabar baik. Kau bagaimana?” balasmu dengan selang waktu yang lumayan lama. Kau berjingkrak-jingkrak terlebih dahulu sebelum membalas pesan itu. Kau mengucek matamu berkali-kali demi memastikan apakah itu temanmu atau bukan. Kau bahkan mencubit pipimu hingga merah hanya untuk menyadarkan diri bahwa ini bukanlah sebuah mimpi. Pesan darinya adalah hal yang nyata dan kau merasa sangat bahagia.


Lalu kalian menjalin kembali tali pertemanan yang hampir memudar. Tidak, hanya ia yang menganggapmu sebagai teman. Kau yang berharap lebih padanya, sehingga tidak menyadari bahwa ia sudah berkali-kali membuatmu merasakan kesesakan yang mendalam.


Seolah sudah mendarah daging, kau masih saja menautkan hatimu padanya. Kau masih mengharapkan ia menyatakan bahwa selama ini ia juga menyukaimu selayaknya kau jatuh hati berkali-kali padanya. Kau masih berpikiran naif bahwa semesta pasti memberikan jalan kepadamu untuk bisa bersamanya, apa pun  caranya. Hingga satu waktu kau kembali ditampar keras oleh kenyataan.


Ia bertunangan. Ya, kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri sebuah unggahan foto di Facebook yang menunjukkan bahwa ia sedang memasangkan cincin pada jari manis perempuan lain. Untuk kesekiankalinya kau harus menanggung kesesakan atas cintamu yang bertepuk sebelah tangan. Namun, sikap keras kepalamu ternyata masihlah sama. Kau menyetujui satu pepatah yang mengatakan bahwa sebelum janur kuning melengkung, kesempatan itu masihlah ada. Maka, dengan percaya dirinya bahwa kau dan ia masih memiliki kesempatan untuk bersama. Tidak, maksudnya adalah kau yang berharap memiliki kesempatan untuk bisa bersamanya.


Akibat cinta butamu itu kau jadi tidak memikirkan hal lainnya. Bahwa memaksakan seseorang yang tidak ingin bersamamu adalah sebuah kesia-siaan yang paripurna. Ia telah menautkan hatinya pada wanita lain, dan kau masih menjatuhkan hatimu sedalam-dalamnya pada ia yang menyakiti hatimu. Untuk pertama kalinya, kau yang dinilai cerdas oleh teman-temanmu, tidak bisa menemukan jarak pembatas antara cinta dan kebodohan.


“Ya Tuhan, jika ternyata ia bukan menjadi takdirku, maka pertemukanlah aku untuk yang terakhir kali sebelum ia menikahi gadis pilihannya. Untuk menghilangkan perasaan ini yang terlalu lama mengimpit dadaku hingga sesak,” pintamu seusai sembahyang. Lalu, dengan baik dan cepatnya, Tuhan mengabulkan doamu yang satu itu. Meski tidak berkesempatan untuk berbincang, kau akhirnya berpapasan dengannya. Bonusnya adalah ia yang menyapamu terlebih dahulu. Lalu saat itu, dalam keadaan setengah sadar, kau memutuskan untuk berhenti jatuh hati kepadanya.


Meskipun ia sudah akan menjadi suami orang lain, tetapi sesuatu yang berhubungan dengannya akan selalu jadi istimewa bagimu. Kau sudah berikrar bahwa tidak akan lagi tertarik pada hal-hal yang berhubungan dengannya. Namun, saat ia kembali menyapamu di jalanan yang lengang itu, hatimu kembali berdegup tidak keruan. Kau dibuat gagap saat hendak menjawab sapaannya. Senyumnya yang masih terlihat manis tak pernah membuatmu melupakan perasaan dalam hatimu yang sudah lama tertanam.


“Bulan depan aku akan menikah, Kawan. Kau akan datang, kan?” ujarnya dengan tawa yang melebar. Kau melihat banyak binar kebahagiaan di matanya. Berbeda dengan matamu yang menatapnya dengan nanar. Kau berusaha tersenyum lebar, tetapi mungkin saja kebohongan terlihat jelas dari sorot matamu.


“Kalau memang ada kesempatan, aku pasti datang, Kawan.” Begitulah kiranya jawabanmu yang mengambang itu. Benar saja, kesempatan itu tidak kaudapatkan sehingga kau tidak bisa menghadiri hari bahagianya. Kau benar-benar tidak lagi ingin berurusan perasaan dengannya. 


Usia pernikahannya kini sudah hampir dua tahun. Sesekali kau memikirkannya saat ia menyukai unggahanmu di Facebook dan Instagram. Namun, setelahnya kau tidak lagi berharap bahwa ia akan menjadi milikmu. Kau juga akhirnya menemukan kebahagiaanmu. Menjadi seorang yang berpengaruh dalam bidang yang kautekuni. Pelatihan-pelatihan, seminar, dan beberapa pekerjaan yang menumpuk bisa mengalihkan pikiranmu untuk tidak selalu berfokus kepadanya. Kesibukan itu telah menampilkan wajahmu yang kembali bersemangat.


Lalu, tanpa pernah disangka dan diharapkan sebelumnya, kau kembali berpapasan dengannya. Degup jantungmu seolah terdengar ke mana-mana. Rupanya hatimu tak pernah berubah. Sambil menuntun seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan, ia menghampirimu.


“Hei, Kawan, perkenalkan ini Adinda, anak pertamaku,” katanya dengan raut yang selalu bahagia.


“Oh, hai, Anak Manis. Kau lucu sekali,” katamu dengan kalimat yang tercekat.


Seusai pertemuan sore itu, semesta telah menegurmu untuk yang kesekian kali, bahwa takdirmu bukanlah dirinya. Bahwa kau dan ia tak akan pernah bersinggungan dan juga sejalan. Seusai pertemuan sore itu, seharusnya kau paham betul bahwa mencintai tidak hanya selalu tentang memiliki, tetapi juga tentang mengikhlaskan dan melepaskan.  


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama